Dengan Tingginya tingkat perdagangan, juga terlihat dari sejarah pemindahan pelabuhan di Palembang pada masa penjajahan Belanda. Juga catatan mengenai banyaknya kapal yang keluar masuk lewat Sungai Musi ke kota ini. Seiring kejatuhan Kesultanan Palembang Darussalam, Belanda membangun pelabuhan yang dinamakan Boom Jeti di depan Benteng Kuto Besak (sekarang Perbekalan dan Angkutan [Bek Ang] Kodam II Sriwijaya). Sebelumnya, sudah ada pelabuhan di kawasan 35 Ilir. Tahun 1914, pelabuhan dipindahkan ke muara Sungai Rendang (kini dikenal sebagai Gudang Garam). Dengan alasan pelabuhan tidak mampu lagi menampung kapal yang keluar masuk, Belanda kembali
memindahkan pelabuhan ke kawasan di antara Sungai Lawang Kidul dan Sungai Belebak. Pelabuhan yang dikenal sebagai Boom Baru ini ditetapkan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda lewat Staadblad No. 545 Tahun 1924. Kala itu, panjang dermaganya sekitar 250 meter dan dilengkapi dengan "Kantor Doane" atau Bea Cukai terapung.
Saat ini Bea Cukai masih tetap megatur arus keluar masuk kapal dan barang yang akan dan ke Palembang dengan kantor Permanent tidak jauh dari gerbang masuk terminal peti kemas Palembang.
|